Adab Santri #5: Adab Terhadap Guru Bagian 1 – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA

Adab Santri #5: Adab Terhadap Guru Bagian 1 – Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA

Adab Santri Kepada Guru

memilih guru yang memiliki kompetensi.
wajib bagi seorang santri untuk memilih siapa yang akan menjadi gurunya.

karena guru akan membentuk akidah sang murid.

Tolak ukur memilih guru, imam ibnu jamaah berkata:

apakah layak dijadikan contoh dalam hal akhlak.
jika memungkinkan sempurna pengetahuan ttg bidang yang akan dipelajari.
guru memiliki kasih sayang kepada muridnya. sabar dan telaten. serta etikanya baik. dan kesuciannya sudah dikenal.
menjaga diri dari sesuatu yang haram, subhat atau makruh.
jika mengajar bagus, mudah diterima oleh audiens.
seandainya suatu saat ada yang dirasa kurang dgn gurunya maka bersabarlah.

kaidah dari imam Ibnu siri. ilmu adalah bagian dari agama, maka lihat darimana kita mengambil ilmu agama.

beliau imam ibnu jamaah mengingatkan jangan sampai kita hanya mau mengambil ilmu dari darinorang yang terkenal dan enggan mengambil ilmu dari yang tidak terkenal.

Orang yang punya pola pikir seperti diatas ini termasuk dalam kesombongan dan keangkuhan serta kedunguan. karena hikmah adalah barang temuan seorang mukmin maka dia harus mengejarnya. bisa jadi ilmu yang didapat dari guru yang tidak dikenal lebih berkah, karena kita benar-benar ikhlas dalam menuntut ilmu.

Orang harus menjauhi kebodohan sebagaimana dia berlari ketika dikejar singa. imam ahmad bin hambal.

Imam ibnu jamaah mengamati, rata-rata santri yang sukses ketika berguru dengan guru yang takwanya lebih tinggi. atau menemukan guru yang sayang kepada muridnya. sabar dan telaten.

begitu pula buku akan lebih bermanfaat bagi santri ketika ditulis oleh orang yang lebih bertakwa.

Sesuatu yang dikerjakan karena Allah akan langgeng. perkataan imam malik ketika beliau menulis kitab muwattho.

(kerjakan sesuatu walaupun tidak ada yang like atau komentar)

Imam ibnu jamaah menutup nasehatnya, hendaklah kalo kamu berguru carilah guru yang betul-betul menguasai ilmu agama. dengan melihat guru tersebut biasa duduk atau belajar dengan para ulama atau belajar otodidak hanya belajar dari buku.

belajar hanya dari buku bukanlah potret belajar yang ideal.

imam syafii berkata, barang siapa belajar hanya dari buku dia akan banyak merusak hukum syar’i.

dengan berguru seseorang bisa menghemat waktu untuk mendapatkan pemahaman.

jika berguru seseorang tidak mudah besar kepala karena melihat keluasan ilmu gurunya. dan bisa mempelajari adab dari guru.

termasuk musibah terbesar adalah menjadikan buku sebagai guru (google)

adab kedua adalah menghormati guru tanpa berlebihan.

guru memiliki hak yang harus ditunaikan oleh para penuntut ilmu.

praktek sahabat nabi dan para ulama dalam menghormati guru.

Nasehat dari Ali bin abi tholib,
diantara hak guru adalah jangan terlalu banyak bertanya. dan jangan memaksa atau mendesak guru untuk menjawab.

jika bertanya hendaknya ringkas dan mudah dipahami guru.

jangan memaksa guru jika sedang merasa tidak nyaman.

Dan jika guru sudah hendak pergi bangkit jangan ditahan.

Dan jangan pernah mrnyebarkan rahasia atau aib guru.

dan jangan menggunjing orang lain didepan guru.

jangan mencari kesalahan dan aib guru. jila. ada kesalahan maka berilah udzur dan maaf.

wajib menghormati guru karena Allah. selama menjaga dan mengamalkan perintah Allah.

jangan berperilaku tidak sopan terhadap guru.

jika guru memiliki keperluan jadilah yang pertama untuk membantu.

Praktek para sahabat,
suatu hari zaid ibnu tsabit menyolatkan jenazah kemudian didatangkan bighol kendaraan zaid. kemudian ibnu abbas menuntunkan bighol zaid bin tsabit.

ketika melihat yang dilakukan ibnu abbas zaid berkata, jangan lakukan hal tersebut. beliau merasa tidak nyaman.

maka apa jawaban ibnu abbas, beginilah yang harusnya dilakukan kepada ulama dan orang-orang besar dalam hal ilmu dan kehormatan.

pemateri: Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *